Tak Bisa Beli Pertalite di SPBU untuk Pompa Air, Petani Kota Bima Terancam Gagal Panen, BBM Eceran Justru Menjamur -->

Advertisement

Video Karaoke

Tak Bisa Beli Pertalite di SPBU untuk Pompa Air, Petani Kota Bima Terancam Gagal Panen, BBM Eceran Justru Menjamur

21 Okt 2026


Kota Bima, NTB | bimakita.com — Kemarau panjang belum berakhir, tetapi petani di Kota Bima kini menghadapi persoalan baru. Di tengah krisis air yang mengancam tanaman, mereka mengaku kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk mengoperasikan mesin pompa air di sawah.


Kondisi ini dikeluhkan Mustakim, petani asal Kelurahan Rabadompu Barat yang menyewa lahan pertanian di wilayah Mande, Kota Bima. Ia mengaku tidak lagi bisa membeli Pertalite di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menggunakan jeriken untuk kebutuhan mesin pompa air pertanian.


Menurut Mustakim, penolakan tersebut membuat petani semakin kesulitan mempertahankan tanaman mereka di tengah terbatasnya pasokan air. Padahal, pengoperasian mesin pompa menjadi salah satu upaya yang diandalkan untuk menyelamatkan sawah dari ancaman kekeringan.


Alasannya SPBU tidak melayani jeriken atau wadah sejenis, padahal ini untuk mesin pompa air sawah. Tapi anehnya, di pinggir jalan eceran kok tetap ada dan melimpah?” keluh Mustakim.


Tak Bisa Beli BBM, Pompa Air Terancam Berhenti

Bagi petani yang mengandalkan mesin pompa untuk mengairi sawah, ketersediaan BBM menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa bahan bakar, mesin tidak bisa beroperasi, sementara tanaman membutuhkan pasokan air agar tetap bertahan hidup.


Situasi tersebut menempatkan petani pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menghadapi kemarau yang mengancam pertumbuhan tanaman. Di sisi lain, akses pembelian BBM untuk mengoperasikan pompa air yang mereka butuhkan justru disebut mengalami hambatan.


Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi, risiko kerusakan tanaman hingga gagal panen semakin membayangi. Kerugian yang muncul juga berpotensi membebani petani, terlebih Mustakim menggarap lahan dengan status sewa yang tetap membutuhkan biaya produksi.


Bagi petani, persoalan ini bukan sekadar sulit memperoleh bahan bakar. Keterbatasan akses BBM dapat memutus upaya penyelamatan tanaman ketika air menjadi kebutuhan paling mendesak.


BBM Eceran Menjamur, Petani Pertanyakan Kebijakan SPBU

Mustakim juga mempertanyakan perbedaan kondisi antara pembelian langsung di SPBU dan ketersediaan Pertalite yang dijual secara eceran di pinggir jalan.


Menurutnya, BBM eceran masih mudah ditemukan, sementara petani yang ingin menggunakannya untuk mengairi sawah justru mengaku kesulitan memperoleh pasokan langsung dari SPBU.


Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme distribusi dan pengawasan BBM bersubsidi di lapangan. Namun, ketersediaan Pertalite di pengecer tidak serta-merta membuktikan adanya pelanggaran oleh SPBU tertentu. Diperlukan penelusuran lebih lanjut mengenai asal pasokan, ketentuan penyaluran, serta alasan penolakan pembelian menggunakan jeriken.


Persoalan ini perlu mendapat penjelasan dari pihak SPBU maupun instansi terkait agar petani memperoleh kepastian mengenai prosedur pembelian BBM untuk kebutuhan pompa air pertanian.


Pemkot Bima Diminta Turun Tangan Sebelum Gagal Panen

Menghadapi ancaman kekeringan dan kesulitan memperoleh BBM, Mustakim mendesak Pemerintah Kota Bima agar segera turun tangan mencari solusi konkret bagi petani.


Ia berharap pemerintah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kebutuhan BBM bagi operasional pompa air pertanian dapat ditangani melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan.


Menurutnya, langkah cepat diperlukan sebelum kondisi sawah semakin memburuk dan petani kehilangan kesempatan menyelamatkan tanaman mereka.


Pemerintah juga perlu berkoordinasi dengan Pertamina dan instansi yang berwenang untuk menjelaskan aturan pembelian Pertalite menggunakan jeriken, termasuk kemungkinan mekanisme penyaluran khusus bagi kebutuhan pertanian apabila memenuhi persyaratan yang berlaku. (Red)