![]() |
| Foto : Tampak rumput di hampir semua tempat di taman mati. |
Kota Bima, NTB | bimakita.com — Di tengah gencarnya Pemerintah Kota Bima mempercantik wajah kota melalui berbagai proyek penataan taman dan ruang terbuka, kondisi sejumlah taman yang telah dibangun sebelumnya justru menyisakan pertanyaan serius terkait pemeliharaan.
Persoalan itu terlihat di Taman Amahami, salah satu ruang terbuka yang selama ini menjadi destinasi favorit masyarakat sekaligus salah satu ikon Kota Bima.
Taman yang semestinya menjadi ruang publik dengan lingkungan hijau dan terawat itu kini tampak mengalami penurunan kualitas. Salah satu yang paling mencolok adalah kondisi rumput taman yang sebagian besar terlihat mati dan hilang. Area yang sebelumnya didominasi hamparan rumput hijau kini lebih banyak memperlihatkan permukaan tanah.
Kondisi tersebut menimbulkan ironi. Pemerintah terus mengalokasikan anggaran untuk memperindah wajah kota, tetapi pada saat yang sama hasil pembangunan yang telah menggunakan uang rakyat justru berpotensi kehilangan fungsi dan keindahannya karena persoalan pemeliharaan.
Persoalan ini bukan semata soal ada atau tidaknya kekurangan dalam pekerjaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai OPD yang berkaitan dengan pengelolaan ruang terbuka dan taman kota. Namun, pemeliharaan merupakan bagian penting dari keberlanjutan sebuah proyek penataan.
Tanpa perawatan yang memadai, taman yang dibangun dengan anggaran publik berisiko hanya menjadi proyek yang bagus saat selesai dikerjakan, tetapi perlahan kehilangan manfaat dan nilai estetikanya setelah beberapa waktu.
Salah seorang pengunjung Taman Amahami, Imran, warga Kota Bima, menyayangkan kondisi tersebut.
Sangat disayangkan, nampak jelas tanaman, terutama rumput hijau, sudah hilang dan mati semua. Yang tampak hanya tanah,” ujarnya. (21/8)
Imran mempertanyakan ke mana hamparan rumput yang sebelumnya menjadi bagian dari daya tarik taman tersebut.
Kemana rumput hijau yang dulu? Apa semua ini nantinya menjadi kerugian dan akan keluar anggaran baru untuk pengadaan rumput taman?” katanya.
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika pengadaan kembali harus dilakukan akibat tanaman atau fasilitas taman tidak bertahan karena minim pemeliharaan.
Sebab, apabila fasilitas yang telah dibangun dapat dirawat secara konsisten, kebutuhan untuk melakukan pengadaan ulang semestinya dapat ditekan. Anggaran pemeliharaan bukan sekadar biaya rutin, melainkan instrumen untuk menjaga agar investasi publik tidak cepat rusak atau kehilangan fungsi.
Taman Amahami sendiri memiliki posisi strategis bagi Kota Bima. Selain menjadi ruang publik, kawasan tersebut juga menjadi salah satu lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat untuk bersantai, berolahraga, menikmati suasana sore, hingga menjalankan berbagai aktivitas lainnya.
Karena itu, kondisi taman tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah. Jangan sampai pembangunan taman hanya berhenti pada tahap pengerjaan fisik dan seremoni, sementara keberlanjutan serta perawatannya justru luput dari pengawasan.
Di sisi lain, publik juga berhak mengetahui bagaimana pola pemeliharaan taman-taman kota selama ini. Berapa anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan? Seberapa rutin perawatan dilakukan? Siapa yang bertanggung jawab memastikan tanaman dan fasilitas taman tetap terawat?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk dijawab secara terbuka agar pembangunan ruang publik tidak berujung pada pemborosan anggaran akibat pekerjaan yang harus berulang kali dilakukan.
Kondisi Taman Amahami menjadi pengingat bahwa mempercantik kota bukan hanya persoalan membangun sesuatu yang baru. Merawat apa yang sudah dibangun dengan uang rakyat juga merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah.
Harapannya, DLH dan pihak terkait segera memperhatikan kondisi tersebut dan melakukan evaluasi terhadap sistem pemeliharaan taman kota.
Sebab, wajah kota tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak proyek baru yang dibangun, tetapi juga oleh seberapa baik pemerintah menjaga fasilitas publik yang sudah ada.
Untuk kepentingan perimbangan pemberitaan, Bimakita telah berupaya menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima melalui pesan singkat untuk meminta tanggapan terkait kondisi Taman Amahami, termasuk aspek pemeliharaan dan perawatan taman. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan yang disampaikan.
Bimakita tetap membuka ruang bagi pihak DLH Kota Bima untuk memberikan klarifikasi, penjelasan maupun data terkait pengelolaan dan pemeliharaan Taman Amahami. (Red)

