".....kami ingin pacuan kuda berkembang menjadi olahraga berprestasi, tetap menjaga nilai budaya, sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat,” kata Dediansyah.
Dompu||bimakita.com — Pengurus Provinsi Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Pacu Nusa Tenggara Barat (FN Pordasi Pacu NTB) resmi mengukuhkan kepengurusan FN Pordasi Pacu Kabupaten Dompu masa bakti 2026–2030.
![]() |
| Dediansyah Ketua Pordasi Kabupaten Dompu |
Pengukuhan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 002/PP/PACU/SK/VIII/2026 tentang Pengukuhan Susunan Pengurus Daerah Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Pacu Dompu Masa Bakti 2026–2030, yang ditetapkan di Praya pada 14 Agustus 2026.
Dalam keputusan tersebut, Dediansyah, SH resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum FN Pordasi Pacu Kabupaten Dompu periode 2026–2030.
Pengukuhan kepengurusan baru ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat pembinaan olahraga berkuda di Dompu. Kepengurusan baru tidak hanya diarahkan mengejar prestasi, tetapi juga menjaga pacuan kuda sebagai warisan budaya serta mengembangkan potensi ekonominya bagi masyarakat.
Dediansyah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menegaskan kepengurusan baru akan segera melakukan konsolidasi dan menyusun program kerja yang menyentuh pembinaan atlet, joki, peternakan dan kesehatan kuda hingga penyelenggaraan kompetisi.
Menurutnya, pacuan kuda memiliki posisi strategis bagi masyarakat Dompu karena telah berkembang lintas generasi dan memiliki mata rantai ekonomi yang luas.
“Bagi masyarakat Dompu, pacuan kuda bukan sekadar olahraga. Ini adalah warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi. Di dalamnya juga terdapat potensi ekonomi yang besar. Karena itu, kami ingin pacuan kuda berkembang menjadi olahraga berprestasi, tetap menjaga nilai budaya, sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat,” kata Dediansyah saat di hubungi bimakita.com.
Setiap penyelenggaraan pacuan kuda, lanjutnya, dapat menggerakkan berbagai sektor. Mulai dari pemilik dan peternak kuda, joki, pelatih, perawat kuda, transportasi hingga pedagang dan pelaku UMKM di sekitar arena.
Karena itu, pengembangan olahraga berkuda perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem. Pembinaan prestasi harus berjalan bersama peningkatan kualitas peternakan dan kesehatan kuda, pembangunan sarana dan prasarana, penyelenggaraan pertandingan yang profesional serta pemberdayaan masyarakat.
FN Pordasi Pacu NTB Miliki Hak Suara di KONI NTB
Di tingkat provinsi, posisi FN Pordasi Pacu NTB juga memiliki nilai strategis dalam dinamika organisasi olahraga di Nusa Tenggara Barat.
Sebagai organisasi cabang olahraga yang memiliki hak suara dalam pemilihan Ketua Umum KONI Provinsi NTB, FN Pordasi Pacu NTB menjadi salah satu unsur yang memiliki peran dalam menentukan arah kepemimpinan KONI NTB melalui forum Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov).
Hak suara tersebut menempatkan FN Pordasi Pacu NTB tidak hanya sebagai organisasi yang berkonsentrasi pada pembinaan olahraga berkuda, tetapi juga sebagai bagian dari pemangku kepentingan dalam menentukan arah pembangunan dan tata kelola olahraga prestasi di NTB.
Posisi ini menjadi semakin strategis menjelang agenda pemilihan kepengurusan KONI NTB periode berikutnya, terlebih NTB menghadapi agenda besar pembangunan olahraga dan persiapan menuju PON XXII 2028 NTB–NTT.
Meski demikian, pilihan politik organisasi dalam Musorprov KONI NTB merupakan kewenangan internal FN Pordasi Pacu NTB sesuai mekanisme organisasi dan ketentuan yang berlaku.
Regenerasi Joki dan Pemberdayaan Masyarakat
Di Kabupaten Dompu, Dediansyah ingin memberikan perhatian serius terhadap regenerasi atlet dan joki serta pembinaan pacu tradisional. Modernisasi organisasi, menurutnya, tidak boleh menghilangkan akar budaya pacuan kuda yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Komitmen tersebut tercermin dalam struktur kepengurusan yang memiliki sejumlah bidang strategis, antara lain Pembinaan Prestasi, Sports Science, Sarana dan Prasarana, Kesehatan, Peternakan dan Registrasi Kuda, Pacu Prestasi hingga Pacu Tradisional.
“Kami ingin membangun Pordasi Dompu dari hulu sampai hilir. Prestasinya harus tumbuh, budayanya tetap terjaga, peternakan kudanya berkembang dan masyarakat juga harus merasakan manfaat ekonominya. Pordasi harus hadir bukan hanya untuk pertandingan, tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Dediansyah berharap Pemerintah Kabupaten Dompu, KONI, komunitas olahraga berkuda, pemilik kuda, peternak, joki, pelaku UMKM dan seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi membangun olahraga berkuda Dompu.
Dengan kepengurusan periode 2026–2030, FN Pordasi Pacu Dompu menargetkan lahirnya atlet dan kuda pacu berprestasi sekaligus menjadikan olahraga berkuda sebagai kekuatan dalam pelestarian budaya, pengembangan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat Dompu.
