Mataram||bimakita.com — Dukungan terhadap Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal untuk maju sebagai calon Ketua Umum KONI NTB periode 2026–2030 terus mengemuka menjelang Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI NTB.
![]() |
| Adhar Malaka, Ketua Laskar Langit NTB |
Adhar mengatakan, dukungan terhadap Iqbal bukan semata-mata didasarkan pada posisinya sebagai gubernur. Menurutnya, tantangan olahraga NTB dalam beberapa tahun ke depan membutuhkan figur yang mampu menyatukan pemerintah, KONI, cabang olahraga, atlet hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kami mendorong Bapak Gubernur Lalu Muhamad Iqbal untuk mengambil peran memimpin KONI NTB. Menurut kami, beliau memiliki kapasitas kepemimpinan, jaringan koordinasi dan kemampuan manajerial yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan besar olahraga NTB ke depan,” kata Adhar Malaka.»
PON 2028 Jadi Tantangan Besar
Menurut Adhar, salah satu pertimbangan utama adalah posisi NTB bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah PON XXII 2028.
Ia menilai penyelenggaraan PON tidak cukup hanya dipersiapkan dari sisi pertandingan. Pemerintah daerah dan organisasi olahraga harus memastikan kesiapan atlet, venue, pembiayaan, sumber daya manusia, transportasi, akomodasi hingga koordinasi dengan pemerintah pusat.
Karena itu, ia berpandangan KONI NTB periode berikutnya membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghubungkan seluruh kebutuhan tersebut dalam satu arah kebijakan.
“PON 2028 adalah pekerjaan besar. NTB tidak hanya dituntut sukses sebagai tuan rumah, tetapi kita tentu ingin sukses prestasi. Untuk mencapai dua target itu dibutuhkan komando, koordinasi dan konsolidasi yang kuat sejak sekarang,” ujarnya.»
Adhar mengatakan, momentum menjadi tuan rumah PON seharusnya dimanfaatkan untuk membangun fondasi olahraga NTB dalam jangka panjang, bukan sebatas mengejar keberhasilan penyelenggaraan selama beberapa pekan.
Dorong Pembinaan Atlet Lebih Terukur
Laskar Langit NTB juga berharap kepemimpinan KONI mendatang memberikan perhatian besar terhadap pembinaan atlet dan cabang olahraga.
Menurut Adhar, pembinaan tidak boleh dilakukan secara instan menjelang kompetisi. Pemetaan cabang olahraga potensial, regenerasi atlet, sport science, kualitas pelatih hingga sistem penghargaan terhadap atlet perlu dibangun secara terukur.
“Kita jangan baru sibuk ketika PON sudah dekat. Pembinaan atlet harus dimulai jauh hari, terukur dan berkelanjutan. Cabang olahraga juga harus mendapatkan perhatian secara proporsional berdasarkan kebutuhan dan potensi prestasinya,” kata dia.»
Ia menambahkan, kepemimpinan KONI juga harus mampu membangun tata kelola organisasi yang profesional dan transparan, terutama karena pembinaan olahraga membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.
Nilai Posisi Gubernur Strategis
Adhar melihat posisi Lalu Muhamad Iqbal sebagai Gubernur NTB dapat menjadi kekuatan dalam membangun koordinasi lintas sektor.
Namun, menurutnya, apabila Iqbal nantinya benar-benar maju dalam kontestasi Ketua KONI NTB, dukungan tersebut tetap harus ditempatkan dalam mekanisme organisasi dan ketentuan yang berlaku.
“Yang kami lihat adalah kebutuhan olahraga NTB. Kalau pemerintah, KONI, cabang olahraga dan seluruh stakeholder mempunyai visi yang sama, persiapan PON akan jauh lebih efektif. Tetapi tentu semuanya harus berjalan sesuai mekanisme organisasi dan aturan yang berlaku,” tegas Adhar.»
Menurut dia, keberhasilan NTB pada PON 2028 nantinya bukan hanya diukur dari kemegahan penyelenggaraan, tetapi juga dari prestasi atlet serta warisan fasilitas dan sistem pembinaan yang dapat dinikmati masyarakat setelah PON berakhir.
“Jangan sampai PON selesai, semangatnya ikut selesai. Kita ingin ada legacy. Venue tetap hidup, pembinaan atlet semakin baik dan masyarakat semakin dekat dengan olahraga,” ujarnya.»
Mori Hanafi Lebih Dulu Mendaftar
Kontestasi menuju kepemimpinan KONI NTB periode 2026–2030 sendiri mulai menjadi perhatian publik.
Mori Hanafi disebut telah lebih dahulu mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum KONI NTB dengan mengklaim memperoleh dukungan sekitar 37–38 cabang olahraga.
Proses pendaftaran bakal calon dijadwalkan berlangsung pada 5–15 Agustus 2026, sedangkan Musorprov KONI NTB dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Agustus 2026.
Adhar menilai munculnya sejumlah figur merupakan bagian dari dinamika demokrasi organisasi. Yang terpenting, kata dia, kontestasi tidak berhenti pada perebutan jabatan, tetapi menjadi ruang adu gagasan mengenai masa depan olahraga NTB.
“Siapa pun yang maju harus membawa gagasan besar. KONI bukan sekadar jabatan organisasi. Ada masa depan atlet, ada nama daerah dan ada PON 2028 yang harus kita sukseskan bersama,” katanya.»
Target Sukses Tuan Rumah dan Sukses Prestasi
Adhar berharap Musorprov KONI NTB menghasilkan kepemimpinan yang mampu menyusun peta jalan menuju PON 2028 secara konkret, mulai dari target medali, cabang olahraga unggulan, kebutuhan atlet dan pelatih hingga kesiapan fasilitas pertandingan.
Ia menegaskan dukungannya kepada Lalu Muhamad Iqbal berangkat dari harapan agar olahraga ditempatkan sebagai bagian penting pembangunan sumber daya manusia NTB.
“Olahraga bukan sekadar mengejar medali. Di dalamnya ada pembinaan generasi muda, disiplin, kebanggaan daerah, bahkan ekonomi masyarakat. PON 2028 harus menjadi momentum besar untuk menggerakkan semuanya,” ujar Adhar.»
Menurut Adhar, kepemimpinan KONI NTB periode 2026–2030 akan memikul tanggung jawab besar karena berada tepat pada periode persiapan hingga pelaksanaan PON 2028.
“Karena itu, kami ingin KONI dipimpin figur yang mampu menyatukan semua kekuatan. Target kita harus jelas: sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan PON 2028 memberikan manfaat nyata bagi masyarakat NTB,” pungkasnya.»
