Dari Mete ke Tebu, Desa Sorinomo Bangkit: Panen Capai 60.000 Ton, Uang Miliaran Berputar di Pekat Dompu -->

Advertisement

Video Karaoke

Dari Mete ke Tebu, Desa Sorinomo Bangkit: Panen Capai 60.000 Ton, Uang Miliaran Berputar di Pekat Dompu

7 Okt 2026


Dompu, NTB | bimakita.com – Perjalanan petani di Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, menuju kejayaan komoditas tebu tidak terjadi dalam semalam. Ada sejarah panjang, keraguan, persoalan infrastruktur, hingga keberanian meninggalkan tanaman jambu mete yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup masyarakat.


Kini, wajah pertanian Sorinomo berubah. Hamparan kebun tebu menggantikan sebagian besar kebun mete yang sebelumnya mulai kehilangan produktivitas akibat serangan hama Helopeltis.


Di tengah perubahan tersebut, sosok Maheri menjadi salah satu saksi perjalanan itu. Selain berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di sebuah madrasah, Maheri merupakan Ketua BPD Desa Sorinomo sekaligus Ketua Kelompok Tani Tebu.


Bersama kelompoknya, ia kini mengelola sekitar 10 hektare lahan tebu.


Ketika Mete Mulai Kehilangan Harapan

Maheri masih mengingat masa ketika jambu mete menjadi tanaman utama masyarakat Sorinomo. Selama bertahun-tahun, mete menjadi sumber pendapatan petani.


Namun, kondisi berubah ketika serangan hama Helopeltis mulai mengganggu produksi. Buah banyak yang rontok, hasil panen menurun, sementara biaya perawatan semakin tidak sebanding dengan pendapatan.


Petani pun mulai mencari alternatif.

Titik perubahan terjadi pada 2014, ketika PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) mulai mengajak masyarakat Sorinomo mengembangkan tanaman tebu.



Pada awalnya, ajakan tersebut belum sepenuhnya mendapat kepercayaan masyarakat. Saat itu pabrik belum beroperasi sehingga petani masih mempertanyakan kepastian pasar hasil produksi mereka.


Waktu itu tebu belum menjadi sebuah kepastian bagi kami. Tapi kami sudah tidak punya pilihan lain karena tanaman mete sudah tidak menguntungkan,” kata Maheri.


Keraguan tersebut perlahan terjawab pada 2016, ketika pabrik SMS mulai beroperasi.


Sejak saat itu, masyarakat mulai beralih. Sebagian kebun mete dibuka dan ditanami tebu. Perlahan, tanaman yang awalnya dianggap belum pasti tersebut justru berkembang menjadi salah satu sumber ekonomi utama masyarakat Sorinomo dan wilayah Pekat.


Varietas Bulu Lawang Jadi Pilihan

Perkembangan tebu juga mendapat dukungan melalui program Kebun Bibit Induk (KBI) untuk menemukan varietas yang dinilai paling sesuai dengan karakter wilayah setempat.


Salah satu varietas yang kemudian banyak dikembangkan petani adalah Bulu Lawang (BL).


Menurut Maheri, varietas tersebut cukup diminati petani karena memiliki jumlah anakan yang banyak, batang relatif tinggi, serta bobot yang cukup berat.


Namun, perjalanan tebu Sorinomo tidak langsung mulus.

Persoalan besar justru datang dari infrastruktur.


Pada masa awal pengembangan tebu, kondisi jalan menuju Sorinomo masih sangat buruk. Hal tersebut berdampak langsung terhadap biaya logistik dan pengangkutan hasil panen.


Di tahun-tahun awal, tantangan terbesar adalah infrastruktur. Jalan dari Dompu ke Sorinomo saja setengah mati, bisa satu hari,” ujar Maheri.

 

Foto : sMaheri, guru Pendidikan Agama Islam di sebuah madrasah dan Ketua BPD Desa Sorinomo


Buruknya akses jalan membuat pengangkutan tebu menjadi lebih sulit. Hasil panen membutuhkan waktu lebih lama untuk dibawa menuju pabrik.


Seiring membaiknya infrastruktur, persoalan tersebut perlahan teratasi. Mobilitas kendaraan pengangkut semakin lancar dan kegiatan produksi tebu ikut berkembang.


Dari Kebun Tebu Menjadi Mesin Ekonomi

Kesuksesan pengembangan tebu kini terlihat dari produktivitasnya.


Di Sorinomo, produktivitas tebu rata-rata mencapai 70 hingga 80 ton per hektare. Pada musim panen terakhir, produksi tebu di desa tersebut diperkirakan mencapai sekitar 60.000 ton.


Angka tersebut bukan sekadar statistik produksi pertanian. Di balik puluhan ribu ton tebu itu, terdapat aktivitas ekonomi yang melibatkan ribuan masyarakat.


Saat musim giling tiba, kawasan Pekat berubah menjadi lebih sibuk. Aktivitas panen berlangsung di berbagai kebun, pekerja tebang-muat-angkut (TMA) bekerja sejak pagi, sementara truk terus bergerak membawa tebu menuju pabrik.


Perputaran uang pun ikut meningkat.

Maheri menyebut, pembayaran kepada petani di wilayah Pekat pada masa panen bahkan dapat mencapai miliaran rupiah dalam waktu relatif singkat.


Bayangkan uang sebanyak itu berputar di Pekat. Di wilayah Pekat saja, pembayaran kepada petani pada masa panen bisa mencapai Rp4 sampai Rp5 miliar dalam satu minggu. Perputaran ekonominya luar biasa,” katanya.


PT SMS juga disebut menyerap lebih dari 3.000 pekerja TMA ketika musim panen raya berlangsung.


Tidak hanya petani dan pekerja kebun yang mendapatkan manfaat. Warung, pedagang kecil, jasa angkutan dan berbagai usaha masyarakat di sekitar kawasan produksi juga ikut merasakan dampak perputaran ekonomi tersebut.


Sistem Pembayaran Beri Kepastian

Perubahan juga dirasakan dari sisi tata kelola pembayaran.

Pekerja TMA mendapatkan pembayaran dua kali dalam seminggu. Sementara petani memperoleh pembayaran hasil panen secara mingguan.


Senin petak habis, Jumat lapor, minggu depannya langsung cair,” jelas Maheri.


Bagi petani, kepastian pembayaran tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani.


Maheri sendiri merasakan perubahan ekonomi tersebut dari lahan sekitar 10 hektare yang dikelolanya.


Jika dirata-ratakan, pendapatan bersih dari lahan tersebut bisa mencapai sekitar Rp15 juta per bulan.


Menurutnya, salah satu kelebihan tebu adalah sistem ratoon, yakni tanaman dapat kembali tumbuh setelah ditebang sehingga petani tidak harus melakukan penanaman dari awal pada setiap musim.


Tebu itu enaknya di ratoon. Setelah tebang pertama, perawatan relatif ringan. Tinggal jaga gulma dan pupuk,” ujarnya.


Tak Ingin Tebu Bernasib Seperti Mete

Meski telah membawa perubahan besar, Maheri mengingatkan agar keberhasilan tebu tidak membuat petani terlena.

Pengalaman pahit dengan tanaman mete menjadi pelajaran penting.


Saat ini, menurut dia, mulai terlihat gejala penyakit luka api dan serangan hama penggerek batang di sejumlah kebun. Sejauh ini, serangannya belum menimbulkan kerusakan secara luas.


Namun, kemunculan penyakit dan hama tersebut menjadi peringatan dini bagi petani.


Sekarang sudah mulai muncul penyakit seperti luka api dan hama penggerek. Meski belum terlalu mengganggu, kami khawatir nasib tebu ini seperti jambu mete dulu,” kata Maheri.


Kekhawatiran tersebut menjadi catatan penting di tengah keberhasilan tebu Sorinomo.

Sebab, keberhasilan komoditas tidak hanya ditentukan oleh produksi yang tinggi dan besarnya nilai transaksi. Keberlanjutan juga membutuhkan pengawasan terhadap kesehatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta pendampingan yang konsisten kepada petani.


Kini, setelah lebih dari satu dekade sejak pengembangan tebu dimulai, hasilnya mulai terlihat.


Puluhan ribu ton produksi, miliaran rupiah perputaran uang, ribuan tenaga kerja dan meningkatnya pendapatan petani menjadi bagian dari cerita baru Sorinomo.


Kini, yang harus dijaga bukan hanya panennya, tetapi masa depan masyarakat yang menggantungkan hidup di balik setiap batang tebu. (Red)