![]() |
| Ilustrasi |
MATARAM||bimakita.com — Seorang mahasiswa Sejarah semester I Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat), Sadam, menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah pemuda di Lingkungan Babidas, Kota Mataram. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 3 Oktober 2026 dini hari sekitar pukul 01.15 WITA.
Korban kemudian mendapat penanganan medis di RSUD Kota Mataram. Berdasarkan keterangan dokter yang disampaikan kepada keluarga, terdapat tiga titik luka robek pada bagian belakang kepala yang diduga akibat benda tajam.
Selain luka pada kepala, korban juga mengalami sejumlah luka memar pada bagian wajah dan punggung.
Situasi tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah kecamatan dan aparat kepolisian. Camat Mataram bersama jajaran kepolisian, termasuk Kasat Intelkam Polresta Mataram, turun melakukan pemantauan serta pengamanan untuk mencegah persoalan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Camat juga meminta seluruh pihak menahan diri dan menyerahkan proses penanganan kepada aparat penegak hukum.
Namun, hingga saat ini, keluarga korban masih menunggu proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Persoalan kemudian berkembang ketika korban membutuhkan perawatan lanjutan. Setelah mendapat perawatan di RSUD Kota Mataram, dokter menyarankan Sadam menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSUP NTB.
Persoalan kemudian berkembang ketika korban membutuhkan perawatan lanjutan. Setelah mendapat perawatan di RSUD Kota Mataram, dokter menyarankan Sadam menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSUP NTB.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga menghadapi persoalan biaya pengobatan.
Camat Mataram disebut telah berkoordinasi dengan petugas BPJS mengenai pembiayaan korban. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, biaya pelayanan kesehatan untuk korban akibat tindak kriminal tersebut tidak ditanggung BPJS dalam skema yang mereka gunakan.
Camat Mataram disebut telah berkoordinasi dengan petugas BPJS mengenai pembiayaan korban. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, biaya pelayanan kesehatan untuk korban akibat tindak kriminal tersebut tidak ditanggung BPJS dalam skema yang mereka gunakan.
Kondisi ini membuat keluarga korban harus memikirkan biaya pengobatan sekaligus kebutuhan pendidikan Sadam.
Menurut keluarga, kondisi keuangan mereka juga telah banyak terkuras untuk biaya daftar ulang kuliah di UMMat, pembayaran kos, serta kebutuhan pendidikan lainnya.
FPMR Desak Polisi Memburu Pelaku
Forum Perjuangan Mahasiswa dan Rakyat (FPMR) menilai persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada penanganan medis korban.
FPMR menyatakan akan mempresur aparat kepolisian agar segera mengungkap kasus tersebut, memburu dan menangkap pihak-pihak yang diduga terlibat sesuai proses hukum yang berlaku.
FPMR menyatakan akan mempresur aparat kepolisian agar segera mengungkap kasus tersebut, memburu dan menangkap pihak-pihak yang diduga terlibat sesuai proses hukum yang berlaku.
Selain mendesak kepolisian, FPMR juga meminta Pemkot Mataram dan pihak kampus memberikan perhatian terhadap kondisi korban.
FPMR menuntut agar biaya kesehatan korban dapat digratiskan serta biaya kuliah Sadam juga diberikan keringanan atau dibebaskan selama korban menjalani pemulihan.
"FPMR akan mempresur pihak kepolisian untuk memburu dan mengkap pelaku pengeroyokan dan menuntut pihak kampus dan Pemkot Mataram untuk menggratiskan biaya kesehatan dan biaya kuliah bagi korban." Ujar salah satu pengurus PFMR.
Menurut FPMR, korban saat ini berada dalam posisi yang membutuhkan perlindungan dan dukungan, bukan justru dibebani persoalan biaya ketika masih menjalani perawatan akibat dugaan tindak kekerasan.
Kampus: Kejadian Bukan di Lingkungan Kampus
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Mataram, Dr. Erwin, M.Pd., menyatakan pihak kampus belum mengetahui secara detail mengenai kronologi maupun persoalan yang melatarbelakangi kejadian tersebut.
"Kita tidak tahu peristiwa tersebut, perihal apa dan bagaimana," ujar Warek III UMMat.
Ia juga menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi di luar lingkungan kampus.
"Kejadiannya juga bukan dalam ekosistem kampus," katanya.
Meski demikian, pihak kampus menyampaikan keprihatinan atas peristiwa yang menimpa mahasiswa tersebut.
"Kita sesali peristiwa itu terjadi dan mendorong pelaku melapor ke pihak yang berwajib," ujarnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian keluarga dan kelompok mahasiswa maupun masyarakat yang mengawal kasus Sadam.
Sebab, di satu sisi korban disebut mengalami luka serius dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Di sisi lain, keluarga harus menghadapi persoalan pembiayaan pengobatan dan keberlanjutan pendidikan korban.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana kampus akan memberikan pendampingan kepada mahasiswanya yang menjadi korban dugaan tindak kekerasan, serta apakah Pemkot Mataram dapat mengambil langkah untuk memastikan korban tetap memperoleh akses kesehatan tanpa terbebani persoalan biaya.
Sementara itu, proses hukum terhadap dugaan pengeroyokan tersebut juga masih menjadi perhatian. Keluarga korban berharap aparat kepolisian segera mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab dan memprosesnya sesuai ketentuan hukum. (Red)
