Membaca Ulang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Timur (NTB, Maluku Utara, Sulawesi Tengah) -->

Advertisement

Video Karaoke

Membaca Ulang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Timur (NTB, Maluku Utara, Sulawesi Tengah)

23 Mei 2026



Oleh: Adhar Malaka

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tiga provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi Nasional pada Triwulan I 2026 adalah Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah. Namun jika dielaborasi lebih dalam, ketiganya memiliki struktur pertumbuhan yang sangat berbeda.

 

Maluku Utara: Tumbuh Sangat Tinggi, Tetapi Sangat Bergantung pada Hilirisasi Tambang


Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional sebesar 19,64 persen (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan I 2026. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada di level 5,61 persen. (BPS Maluku Utara)

 

Motor utama pertumbuhan Maluku Utara berasal dari sektor industri pengolahan berbasis hilirisasi nikel yang tumbuh mencapai 37,09 persen. Artinya, lonjakan ekonomi daerah ini terutama ditopang oleh aktivitas smelter dan industri pengolahan mineral. (BPS Maluku Utara)

 

Secara nominal, PDRB Maluku Utara pada Triwulan I 2026 mencapai Rp37,06 triliun. Namun tingginya pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang relatif stagnan, berdasakan data BPS; 

- 2024: 103,12 (Desember)

- 2025: 103,77 (Desember)

- 2026: 102,34 (Februari)


Data diatas menjelaskan NTP yang cenderung datar, hal ini menunjukkan bahwa sektor rakyat, khususnya pertanian, belum menikmati dampak pertumbuhan ekonomi secara optimal. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara masih terkonsentrasi pada sektor ekstraktif dan industri besar.

 

Secara struktural, ini menggambarkan bahwa ekonomi Maluku Utara masih memiliki karakter high growth but less inclusive. Pertumbuhan tinggi tercipta karena nilai tambah industri tambang sangat besar, tetapi efek distribusinya ke masyarakat luas masih terbatas. Karena itu, tantangan terbesar Maluku Utara ke depan adalah melakukan diversifikasi ekonomi agar sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan jasa dapat ikut menopang pertumbuhan.

 

Nusa Tenggara Barat: Pertumbuhan Tinggi dengan Struktur Ekonomi yang Mulai Lebih Seimbang

 

NTB mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 13,64 persen (y-on-y) pada Triwulan I 2026, menjadikannya provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Indonesia. (BPS)


Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor industri pengolahan yang tumbuh hingga 60,25 persen. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam masih menjadi penopang utama ekonomi daerah.


Namun berbeda dengan Maluku Utara, struktur ekonomi NTB mulai menunjukkan pola yang lebih berimbang. Selain tambang, sektor pertanian dan pariwisata juga mengalami pertumbuhan kuat dan ikut menopang aktivitas ekonomi masyarakat.

Hal ini tercermin dari perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang sangat tinggi:

- 2024: 123,31 (Desember)

- 2025: 134,14 (Desember)

- 2026: 130,31 (Februari)

 

NTP NTB merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa daya beli petani relatif kuat dan sektor pertanian tetap memiliki kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi NTB tidak sepenuhnya terkonsentrasi pada sektor tambang.

 

Selain pertanian, sektor pariwisata NTB juga terus berkembang, terutama di kawasan Lombok dan destinasi super prioritas nasional. Kombinasi antara tambang, pertanian, dan pariwisata menciptakan struktur ekonomi yang lebih resilien dan lebih inklusif.

 

Karena itu, secara fundamental, NTB mulai bergerak menuju model ekonomi modern yang lebih berkelanjutan dan inklusif: pertumbuhan tinggi tetap terjadi, tetapi mulai ditopang oleh lebih banyak sektor produktif rakyat.

 

Sulawesi Tengah: Industri Tumbuh Cepat, Tetapi Pertanian Belum Menjadi Penopang

 

Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,32 persen (y-on-y) pada Triwulan I 2026. Angka ini masih jauh di atas rata-rata nasional dan menjadikan Sulawesi Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. (BPS)

 

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh sebesar 15,09 persen. Sama seperti Maluku Utara, pertumbuhan ini sangat terkait dengan kawasan industri dan pengolahan mineral berbasis nikel.

 

Namun jika dilihat dari indikator kesejahteraan sektor rakyat, situasinya berbeda. NTP Sulawesi Tengah justru mengalami penurunan cukup tajam, yakni:

- 2024: 118,37 (Desember)

- 2025: 101,89 (Desember)

- 2026: 98,34 (Februari)

 

Penurunan NTP menunjukkan bahwa daya beli petani mengalami tekanan. Artinya, pertumbuhan ekonomi tinggi di Sulawesi Tengah belum sepenuhnya diikuti peningkatan kesejahteraan sektor pertanian.

 

Meski demikian, Sulawesi Tengah mulai menunjukkan perkembangan positif pada sektor pariwisata dan jasa pendukung ekonomi daerahnya. Pariwisata perlahan mulai tumbuh sebagai sumber ekonomi alternatif, walaupun kontribusinya masih belum sebesar sektor industri dan tambang.

 

Secara keseluruhan, ekonomi Sulawesi Tengah masih bertumpu pada industrialisasi berbasis sumber daya alam. Tantangan utamanya adalah memperbesar kontribusi sektor pertanian dan ekonomi rakyat agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih merata dan tidak terlalu bergantung pada siklus komoditas tambang.

 

Ketiga provinsi sama-sama mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi jelas menunjukan kualitas pertumbuhan yang berbeda.


·       Maluku Utara memiliki pertumbuhan paling tinggi, tetapi masih sangat terkonsentrasi pada hilirisasi tambang dan belum sepenuhnya inklusif.


·       Nusa Tenggara Barat mulai menunjukkan struktur ekonomi yang lebih sehat karena pertumbuhan tidak hanya ditopang tambang, tetapi juga pertanian dan pariwisata.


·       Sulawesi Tengah masih bertumpu pada industri pengolahan mineral, sementara sektor pertanian belum menjadi penggerak utama kesejahteraan masyarakat.

 

Karena itu, dalam perspektif pembangunan ekonomi, kualitas pertumbuhan jauh lebih penting dibanding sekadar tingginya angka pertumbuhan. Daerah yang mampu memperkuat sektor produktif rakyat seperti pertanian, pariwisata, UMKM, dan jasa akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih inklusif, merata, dan berkelanjutan.


Pada akhirnya, kualitas pembangunan daerah tidak dapat diukur hanya dari seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari seberapa luas pertumbuhan tersebut menciptakan kesejahteraan nyata bagi masyarakat. Dalam konteks itu, pengalaman tiga provinsi menunjukkan bahwa daerah yang hanya bertumpu pada ledakan sektor tambang memang mampu menghasilkan pertumbuhan tinggi dalam waktu singkat, tetapi belum tentu mampu memperkuat ekonomi rakyat secara merata.


Di tengah situasi tersebut, Lalu Muhamad Iqbal (Gubernur NTB) mulai memperlihatkan arah pembangunan ekonomi NTB yang lebih strategis dan teknokratis. Pendekatan pembangunan tidak semata berorientasi pada penciptaan headline pertumbuhan, tetapi pada upaya membangun struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


Hal ini terlihat dari mulai menguatnya sektor pertanian dan pariwisata sebagai penopang pertumbuhan daerah, di saat sektor tambang masih tetap memberikan kontribusi besar. Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang tetap tinggi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya berputar di sektor-sektor besar, tetapi juga mulai mengalir hingga ke masyarakat bawah dan kawasan perdesaan.


Model pembangunan seperti ini penting karena fondasi kemakmuran daerah tidak dibangun dari pertumbuhan sesaat, melainkan dari kemampuan memperkuat daya beli masyarakat, memperluas partisipasi ekonomi rakyat, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif.

 

Dalam perspektif kebijakan publik, pendekatan teknokratis memiliki keunggulan karena bertumpu pada data, penguatan fundamental ekonomi, dan pembangunan jangka panjang. Pendekatan ini mungkin tidak selalu menghasilkan efek populis yang instan, tetapi dampaknya cenderung lebih nyata terhadap ekonomi riil masyarakat.

 

Karena itu, arah pembangunan NTB saat ini mulai menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berbasis strategi, diversifikasi ekonomi, dan penguatan sektor rakyat berpotensi menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas dibanding sekadar mengejar pertumbuhan tinggi yang terkonsentrasi pada segelintir sektor. Di sinilah letak perbedaan antara pertumbuhan ekonomi sebagai angka statistik dan pertumbuhan ekonomi sebagai instrumen kemakmuran rakyat.