Mataram||bimakita.com — Pembubaran kegiatan pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" di lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) yang dilaksanakan oleh Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Komisariat UMMAT dan Forum Perjuangan Mahasiswa dan Rakyat (FPMR) pada, Jum'at (22/5/2026) menuai sorotan dari sejumlah mahasiswa.
Kegiatan yang disebut sebagai bagian dari ruang diskusi intelektual itu dihentikan oleh pihak kampus jelang acara dimulai dan memicu protes mahasiswa terkait kebijakan kampus terhadap aktivitas akademik mahasiswa.
Menurut keterangan mahasiswa yang terlibat, penghentian kegiatan diduga dilakukan setelah adanya instruksi internal yang diarahkan kepada pihak fakultas dan pengamanan kampus. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak universitas mengenai alasan pembubaran kegiatan tersebut.
Salah satu mahasiswa UMMAT, Ade Yudiansyah, menyampaikan kekecewaannya atas peristiwa itu. Ia menilai perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang terbuka untuk bertukar gagasan, memperkuat daya kritis, serta mengembangkan tradisi intelektual mahasiswa.
“Kami mempertanyakan alasan logis dan akademis di balik matinya listrik di UMMAT dan pembubaran pemutaran film Pesta Babi. Kampus seharusnya menjadi tempat berkembangnya diskusi, pertukaran pikiran, dan ilmu pengetahuan,” ujar Ade Yudiansyah.
Ade juga mengkritik kebijakan pembubaran tersebut. Menurutnya, tindakan itu merupakan bentuk pembatasan terhadap ruang intelektual mahasiswa.
“Secara pribadi, saya menilai kebijakan seperti ini menunjukkan sikap yang saya anggap fasis terhadap ilmu pengetahuan, karena ruang diskusi dan aktivitas intelektual mahasiswa justru dibatasi,” tegasnya.
Mahasiswa meminta pihak rektorat memberikan penjelasan secara terbuka dan transparan terkait alasan penghentian kegiatan agar tidak menimbulkan spekulasi di kalangan civitas akademika. Mereka juga mendorong adanya dialog terbuka antara mahasiswa dan pimpinan kampus mengenai batasan kegiatan akademik dan ruang kebebasan berpikir di lingkungan universitas.
Selain itu, mahasiswa menyatakan akan terus menyuarakan kritik terhadap kebijakan kampus yang dinilai membatasi ruang berekspresi dan diskusi.
“Kami akan melakukan perlawanan besar-besaran terhadap birokrasi kampus Universitas Muhammadiyah Mataram. Kami tidak akan pernah diam selama ketidakadilan terus dipertontonkan. Kami akan terus ada dan berlipat ganda,” ujar salah satu mahasiswa.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Universitas Muhammadiyah Mataram belum memberikan keterangan resmi terkait insiden pembubaran pemutaran film Pesta Babi tersebut.
