Panen MBG diduga Salah Sasaran : Siswa Libur, Makanan Melimpah Tak Tersalurkan di SMAN 1 Langgudu -->

Advertisement

Video Karaoke

Panen MBG diduga Salah Sasaran : Siswa Libur, Makanan Melimpah Tak Tersalurkan di SMAN 1 Langgudu

11 Apr 2026


Bima, NTB | bimakita.com  — Program bantuan makanan bergizi gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Kali ini, dugaan ketidaktepatan sasaran muncul di SMAN 1 Langgudu setelah beredar video dan foto di media sosial yang menunjukkan tumpukan MBG dalam jumlah besar tidak tersalurkan kepada siswa.


Unggahan tersebut berasal dari akun warganet “firacom mancing laut” pada 11 Juni. Dalam konten yang beredar, terlihat sejumlah paket MBG menumpuk dan justru dibagikan kepada guru serta pengelola sekolah.


Dalam salah satu narasi unggahan, pemilik akun menuliskan:

Gimana ini Ketua..!! Kemarin pas banyak siswa ke sekolah MBG diliburkan. Sekarang habis ujian siswa banyak yg gak datang ke sekolah 😩😩 Jadi jatah MBG melimpah.. Jadi jangan salahkan gurunya yg banyak bawa pulang MBG.. Ini kalo diuangkan bisa langsung naik Haji nih 🤣🤣”



Pernyataan tersebut menyiratkan adanya ketidaksinkronan antara distribusi program dengan kondisi riil kehadiran siswa di sekolah.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebagian besar siswa kelas X dan XI tengah libur karena pelaksanaan ujian akhir bagi kelas XII. Kondisi ini menyebabkan jumlah penerima MBG di sekolah berkurang drastis.


Namun, distribusi MBG tetap berjalan dengan kuota penuh, sehingga terjadi kelebihan makanan dalam jumlah signifikan.



Alih-alih dilakukan penyesuaian distribusi atau dialihkan kepada pihak yang lebih membutuhkan, kelebihan tersebut justru dibagikan secara internal.


Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait manajemen program MBG di lapangan. Program yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi siswa justru berpotensi menjadi tidak efektif, bahkan membuka celah pemborosan anggaran.


Jika kondisi seperti ini terjadi secara berulang di berbagai sekolah, maka tujuan utama program berisiko meleset dari sasaran.


Temuan ini juga mengindikasikan lemahnya pengawasan serta kurangnya mekanisme evaluasi berbasis kondisi riil di sekolah.


Idealnya, distribusi MBG bersifat fleksibel dan adaptif terhadap:

  • Jumlah kehadiran siswa
  • Kalender akademik (ujian/libur)
  • Kebutuhan aktual penerima manfaat

Tanpa sistem kontrol yang ketat, program berpotensi hanya berjalan secara administratif, bukan substantif.


Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah maupun instansi terkait yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut belum berhasil dikonfirmasi.


Upaya konfirmasi masih terus dilakukan oleh redaksi guna memperoleh penjelasan resmi terkait mekanisme distribusi serta dugaan kelebihan kuota yang terjadi. (Red)