Mataram, NTB | bimakita com – Sebagai wilayah perkotaan, Kota Bima semestinya menjadi simpul pertumbuhan ekonomi. Namun realisasi investasi 2025 menunjukkan gambaran berbeda. Total investasi hanya Rp 111,17 miliar, salah satu yang terendah di NTB.
Dilansir dari Lombok Post (28/1) Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma mengakui struktur ekonomi kota ini masih sempit.
Struktur ekonomi Kota Bima memang didominasi perdagangan. Namun, skala usaha yang relatif kecil dan belum adanya PMA membuat nilai investasinya belum berkembang optimal.” (27/1)
![]() |
| Foto : Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma |
Perdagangan Jadi Andalan, Tapi Tidak Melonjakkan Nilai
Sektor perdagangan menyumbang Rp 69,57 miliar. Ini menegaskan fungsi Kota Bima sebagai pusat distribusi barang, bukan pusat produksi.
Perdagangan skala kecil-menengah memang menggerakkan ekonomi harian, tetapi tidak cukup untuk menarik investasi besar. Industri dan pariwisata disebut ada, namun kontribusinya masih terbatas.
Tanpa PMA, Investor Asing Belum Masuk
Ketiadaan PMA (Penanaman Modal Asing) menjadi indikator serius. Kota Bima belum masuk radar investor global.
Irnadi juga menyoroti tantangan umum yang dihadapi daerah.
Investor membutuhkan kepastian, baik dari sisi tata ruang, regulasi, maupun dukungan masyarakat. Tanpa itu, sulit mendorong investasi besar masuk.”
Ini menunjukkan bahwa persoalan Kota Bima bukan semata ukuran pasar, tetapi daya saing wilayah.
Masalah Tata Ruang dan Kesiapan Kawasan
Seperti Kabupaten Bima, Kota Bima juga terbentur persoalan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Tanpa zonasi jelas, investor kesulitan memastikan legalitas usaha.
Baca Juga :
Irnadi kembali menegaskan:
RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) menjadi pintu awal investasi. Kalau belum jelas, investor akan menahan diri.”
Ketiadaan kawasan unggulan—baik industri, pariwisata terpadu, maupun logistik modern—membuat investasi di Kota Bima tumbuh alami, kecil, dan sporadis.
Ancaman Stagnasi Kota
Tanpa industri, tanpa Penanaman Modal Asing (PMA), dan tanpa proyek strategis, Kota Bima berisiko hanya menjadi kota perputaran uang skala kecil. Ekonomi bergerak, tapi tidak melompat.
Masalahnya bukan tidak ada aktivitas ekonomi, tetapi tidak adanya strategi besar untuk mengubah kota dagang menjadi kota produksi dan jasa modern. Tanpa pembenahan tata ruang, kawasan investasi, dan reformasi perizinan, Kota Bima akan terus tertinggal dalam peta investasi NTB. (Red)

