BIMA | bimakita.com — Desa Sari kembali menghidupkan denyut warisan budaya leluhur melalui Festival Wadu Sura V. Mengusung semangat “Jejak Sejarah, Napas Budaya, Masa Depan Desa”, festival yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 September - 1 Oktiber ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi sekaligus memperkenalkan potensi wisata budaya Desa Sari kepada masyarakat luas.
Festival Wadu Sura V tidak sekadar menghadirkan kegiatan budaya. Di balik pelaksanaannya terdapat misi untuk menjaga warisan leluhur, khususnya Tombak La Monca, yang secara turun-temurun diwariskan dan oleh masyarakat Desa Sari dikaitkan dengan sejarah Kesultanan Bima.
Ketua Panitia Pelaksana Festival Wadu Sura V, Zulkiflin, AP. Com., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya masyarakat Desa Sari untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
“Festival Wadu Sura V kami laksanakan sebagai bagian dari ikhtiar untuk melestarikan dan menjaga warisan budaya leluhur, terutama Tombak La Monca yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki keterkaitan dengan sejarah Kesultanan Bima,” ujar Zulkiflin.
![]() |
| Tombak La Monca |
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda atau situs bersejarah. Warisan tersebut juga perlu diperkenalkan, dipelajari dan dikembangkan menjadi potensi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, Festival Wadu Sura V diarahkan sekaligus sebagai promosi wisata budaya dan bagian dari upaya menjadikan Desa Sari sebagai desa wisata budaya yang berkelanjutan.
“Tujuan kami bukan hanya menjaga warisan budaya. Kami juga ingin menjadikan Wadu Sura sebagai bagian dari promosi wisata budaya, sehingga Desa Sari dapat berkembang sebagai desa wisata budaya yang berkelanjutan dan menuju desa wisata yang mandiri,” katanya.
Wadu Sura dan Jejak Kesultanan Bima
Wadu Sura merupakan situs budaya yang memiliki tempat penting dalam narasi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Desa Sari.
Masyarakat setempat mengaitkan Wadu Sura dengan sejarah masuknya Islam di tanah Bima serta dengan Kesultanan Bima. Situs tersebut juga dikaitkan dengan kisah ikrar dua kalimat syahadat Sultan pertama Bima, Sultan Abdul Kahir (La Ka'i).
Selain Wadu Sura, terdapat Dana Kala, sebuah lokasi yang juga memiliki keterkaitan dengan kawasan dan narasi sejarah Wadu Sura.
Keterkaitan antara Wadu Sura, Dana Kala, Kesultanan Bima dan Tombak La Monca menjadi bagian dari kekayaan budaya yang hendak diperkenalkan melalui Festival Wadu Sura V.
Zulkiflin mengatakan, festival tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara generasi masa lalu dan generasi masa kini.
“Kami ingin generasi muda mengetahui bahwa Desa Sari memiliki warisan sejarah dan budaya yang harus dijaga. Jangan sampai warisan leluhur hanya menjadi cerita yang kemudian hilang. Melalui festival ini, kami ingin mengenalkan, merawat dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya tersebut,” tutur Zulkiflin.
Budaya sebagai Kekuatan Desa
Festival Wadu Sura V juga membawa gagasan bahwa kebudayaan dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membangun kemandirian desa.
Potensi situs sejarah, tradisi masyarakat, seni budaya, kuliner lokal, UMKM dan berbagai potensi ekonomi kreatif dapat dikembangkan secara terintegrasi dalam konsep desa wisata.
Dengan pendekatan tersebut, festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi diharapkan menjadi bagian dari proses panjang membangun ekosistem wisata budaya di Desa Sari.
“Kami berharap Festival Wadu Sura terus berkembang. Bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi pintu masuk bagi pengembangan Desa Sari sebagai desa wisata budaya yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal,” ungkapnya.
Jejak Sejarah, Napas Budaya, Masa Depan Desa
Festival Wadu Sura V menjadi momentum untuk menempatkan budaya sebagai identitas sekaligus potensi pembangunan desa.
Wadu Sura menyimpan jejak sejarah.
Tombak La Monca menjadi bagian dari warisan leluhur. Dana Kala menyimpan keterkaitan dengan kawasan budaya. Dan Desa Sari memiliki masa depan untuk dikembangkan sebagai desa wisata budaya.
Melalui Festival Wadu Sura V, masyarakat Desa Sari mengajak publik untuk datang, mengenal, menyaksikan dan ikut menjaga warisan budaya yang mereka miliki.


