Kota Bima, NTB | bimakita.com – Di tengah polemik penertiban pedagang di Lapangan Serasuba pada hari pertama Ramadhan, Pemerintah Kota Bima resmi membuka Pasar Ramadhan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026), di Pasar Senggol.
Pembukaan dilakukan langsung oleh Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, yang menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari strategi penguatan UMKM dan kebangkitan ekonomi umat.
180 UMKM, Tema Penguatan Ekonomi Umat
Pasar Ramadhan tahun ini mengusung tema “Penguatan UMKM dan Kebangkitan Ekonomi Ummat” dan diikuti 180 pelaku usaha mikro kecil menengah. Beragam kuliner takjil dan kebutuhan berbuka puasa ditawarkan kepada masyarakat.
Acara pembukaan turut dihadiri unsur pimpinan DPRD, Sekretaris Daerah, para asisten, kepala OPD, camat dan lurah se-Kota Bima, serta tokoh agama dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Feri Sofiyan menekankan bahwa Pasar Ramadhan memiliki nilai sosial dan spiritual.
Bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan ekonomi rakyat di bulan suci,” ujarnya.
Relokasi dari Serasuba: Penataan atau Pemaksaan?
Namun, pembukaan Pasar Ramadhan ini tak bisa dilepaskan dari peristiwa sebelumnya. Di hari yang sama, terjadi ketegangan antara Satpol PP dan pedagang di Lapangan Serasuba. Sejumlah pedagang menolak dipindahkan ke Pasar Senggol karena mengaku telah lama berjualan di kawasan tersebut, bahkan di luar momentum Ramadhan.
Pemerintah menyatakan bahwa pemindahan lokasi merupakan bagian dari penataan koridor kota menuju kawasan yang lebih bersih, tertib, ramah UMKM, dan representatif. Pasar Senggol dipilih kembali sebagai sentra ekonomi kerakyatan yang dinilai strategis.
Namun di lapangan, sebagian pedagang mengeluhkan kondisi lokasi yang dinilai sempit dan berpotensi menimbulkan kepadatan pembeli.
Secara konsep, penguatan UMKM dan kebangkitan ekonomi umat adalah gagasan yang progresif. Tetapi implementasinya menjadi ujian tersendiri: sejauh mana relokasi benar-benar meningkatkan kenyamanan dan pendapatan pedagang, bukan justru memicu keresahan di awal Ramadhan.
Pemerintah Kota Bima berharap Pasar Ramadhan 1447 H menjadi pasar rakyat yang sehat, aman, tertib, dan memberikan manfaat ekonomi bagi pedagang serta kenyamanan bagi masyarakat.
Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Pasar Ramadhan resmi dibuka. Kini publik menanti, apakah kebijakan ini akan benar-benar menjadi titik kebangkitan ekonomi umat — atau justru menyisakan polemik baru di tengah bulan penuh berkah. (Red)



